Rabu 12 Juli 2017 / 19:30 WIB / Gedung Kesenian Jakarta

Program S(ch/j)umanniana menampilkan dua komposer yang uniknya – jika tidak kebetulan – memiliki kesamaan dalam hal nama dan perjalanan hidup. Jika pelafalan Schumann dan Sjuman terdengar homofon, -maniana mengacu kepada mania; kelainan mental yang ditandai dengan munculnya momentum penuh sukacita, euforia, delusi, dan aktivitas meluap-luap yang diduga dialami oleh kedua komposer tersebut. Penambahan akhiran -ana menyatakan kata benda plural, hal-hal yang diasosiasikan dengan tokoh tertentu, tempat, atau minat pada hal-hal khusus. Oleh karena itu, S(ch/j)umanniana dapat diterjemahkan sebagai sebuah kaleidoskop karya-karya musik Schumann dan Sjuman yang keanehannya, keeksentrikannya, serta keunikan persona penciptanya turut dirayakan oleh Jakarta City Philharmonic.

Penempatan dua komposer yang memiliki keunikan identik pada program kali ini bertujuan untuk meminimumkan diskrepansi historis antara “yang lalu” dengan “masa kini.” Dalam runutan sejarah, banyak musisi besar yang dapat dikatakan memiliki segenap problem psikologis, seperti Ludwig van Beethoven dan Robert Schumann. Dalam banyak kasus, kreativitas dan psikosis sama-sama memiliki ciri yang umum, seperti tendensi untuk “berpikir di luar kotak,” ide-ide bombastis dan revolusioner, serta kecepatan dalam berpikir dan pemusatan persepsi visual, auditif, dan stimulus somatik. Komposer Aksan Sjuman termasuk salah satu musisi progresif Indonesia yang dapat dianggap mengilustrasikan kreativitas dan problem-problem psikologis dalam perspektif kekinian.

Fakta bahwa pada akhirnya Sjuman berhasil menemukan mekanisme tersendiri untuk berdamai dengan tahun-tahun tersulitnya membuktikan bahwa persepsi dan penerimaan masyarakat akan kelainan jiwa perlu dihistorisasi, berkaitan dengan konteks sosial. Jika saja Sjuman hidup di era Schumann, situasinya mungkin akan sangat berbeda. Setelah wafatnya Schumann, sejarah merekam bahwa Nyonya Janda Clara Schumann – dan Johannes Brahms – menghancurkan karya-karya terakhir mendiang suaminya yang mereka anggap telah tercemar oleh kegilaannya. Sebaliknya, pada tahun 2017 musik Schumann dan Sjuman justru dirayakan sebagai kecakapan artistik tertinggi umat manusia. Merayakan “kegilaan” mereka merupakan tindakan kemanusiaan untuk memahami esensi manusia dengan segala spektrum dan pencapaiannya. [APS]

PROGRAM

Pengenalan konser oleh Aditya Pradana Setiadi 

SCHUMANN, Robert (1810 – 1856)

Simfoni No. 4 dalam D minor, Op. 120 (versi 1851)

  1. Tempo sedang – Penuh vitalitas (D minor – D mayor)
  2. Romansa: Tempo sedang (A minor – A mayor)
  3. Scherzo (Jenaka): Penuh vitalitas (D minor)
  4. Lambat – Final: Penuh vitalitas (D mayor)

 SCHUMANN, Robert

Konserto untuk Selo dalam A minor, Op. 129

  1. Tempo tidak terlalu cepat (A minor)
  2. Lambat (F mayor)
  3. Sangat hidup (A minor – A mayor)
  • Asep Hidayat, selo

SJUMAN, Aksan (1970)

Under Umbrella for “M” – A piece for orchestra (pementasan perdana)

  1. Squish, squish love
  2. Di setiap helaian nafasku
  3. Under Umbrella (Menaungi Jiwa)

Budi Utomo Prabowo, pengaba

Violin 1: Fafan Isfandiar, M. Januar Affandi D., Josephine, Elisabeth Kurnia Dewi, Janu Hari Nugroho, M. Yudi Eko Nugroho, Fadliansyah, Azinuddin Milzam Dwitiya • Violin 2: Ahmad Ramadhan, Bagus Retoridka, Arum Kusuma Dewi, Hesti Katarina, Andy Amrullah, Noorsyamsi C. P., Ilham Supriatna, Pritha Hayu Adzhari, Yohanes Suharyono • Viola: Yacobus Widodo S.H., Dwi Ari Ramlan, Yulianto Endarmawan, Amy Aurellia Purnajo, Sagaf Faozata Adzkiya, Bernadus Ricalo Gilang • Selo: Nandya Abror Nur Musabih, Alfian Aditya, Billy Aryo Nugroho, L. Sigit Santoso, Putri Juri Batubara, Heidi Imanda Cahyadi, Unung Supardi • Kontrabas: Dwipa Hanggana Prabawa, Ihsan Febriansyah Latif, Joanito Lingga Lasarda P., Wido Widiatmoko, Doni Sundjoyo • Seruling/ Pikolo: Metta Faurizka S., Cendy Sukma Triananda • Obo: Nedy Benediktus, Juhad Ansyari • Klarinet: M. Nur Ikhsan, Dino Yulio Wijaya • Fagot: Siswanto, Slamet Tri Wahana • Trompet: Aditya Susila Sakti, Ahmad Morsidi • Trompet Prancis: Rahmad Biardi, Eddi Purwanto, Febriyanto, Iqbal Firdaus Salam • Trombon: Anggit Suryana, Agil Setiawan, Wening Prasongko • Perkusi/ Timpani: Amiruddin Sitompul, Muhammad Adriansyah, Anggraeni Kartika Putri, Alfin Satriani • Harpa: Carlin Eureka Yasin, Lisa Gracia Supadi • Piano: Merry Kasiman • Vokal untuk Menaungi Jiwa:  Rahel Pradika Purba, Ranya Badudu, Mohammad Attar Nasution, Iwan Paul, Meilita Kasiman, Irlanto Pratama

S(ch/j)umanniana features a uniquely – if not coincidentally – select composers whose names and creative endeavours share an almost similar relationship. If Schumann and Sjuman sound homophonous, -maniana refers to mania; a mental illness marked by periods of great excitement, euphoria, delusions, and overactivity, in which the latter’s life trajectory greatly alludes to the former’s. The addition of the suffix -ana denotes plural nouns, things associated with a person, place, or field of interest. Thus, S(ch/j)umanniana connotes a kaleidoscope of works composed by eccentric composers – namely Schumann and Sjuman – whose idiosyncratic, peculiar artistry and persona has also been celebrated by the Jakarta City Philharmonic.

The pairing of these two identical, eccentric composers altogether intends to minimise the historical discrepancy between the “past” and “present.” Many famous historical figures gifted with creative talents may have been affected by particular psychological problems, including Ludwig van Beethoven and Robert Schumann. In many instances, creativity and psychosis share some common traits, such as a tendency for “thinking outside the box,” flights of ideas, speeding up of thoughts and heightened perception of visual, auditory and somatic stimuli. To illustrate in a more contemporary perpective, Aksan Sjuman is one of Indonesia’s most prolific composers whose works represent the relationship between both creativity and psychosis.

The fact that he finally found his own mechanism for handling those difficult years living with schizophrenia proves that people’s acceptance of mental illness should also be historicised. If only he lived in the times of Schumann, the circumstances might be completely different. After Schumann’s death, history notes that Clara Schumann and Johannes Brahms destroyed many of his later works, which they thought to be tainted by his madness. On the contrary, in 2017 both Schumann and Sjuman’s music are instead being celebrated as the highest artistic endeavours of humankind. Celebrating their madness is part of accepting humanity with all its spectra and accomplishments. [APS]

PROGRAMME

Concert Lecture by Aditya Pradana Setiadi

SCHUMANN, Robert (1810 – 1856)

Symphony No. 4 in D minor, Op. 120 (the 1851 version)

  1. Ziemlich langsam – Lebhaft (D minor – D major)
  2. Romanze: Ziemlich langsam (A minor – A major)
  3. Scherzo: Lebhaft (D minor)
  4. Langsam: Lebhaft (D major)

SCHUMANN, Robert

Cello Concerto in A minor, Op. 129

  1. Nicht zu schnell (A minor)
  2. Langsam (F major)
  3. Sehr lebhaft (A minor – A major)
  • Asep Hidayat, cello

SJUMAN, Aksan (1970)

Under Umbrella for “M” – A piece for orchestra (world première)

  1. Squish, squish love
  2. Di setiap helaian nafasku (In every strand of my breath)
  3. Under Umbrella

Budi Utomo Prabowo, conductor

Violin 1: Fafan Isfandiar, M. Januar Affandi D., Josephine, Elisabeth Kurnia Dewi, Janu Hari Nugroho, M. Yudi Eko Nugroho, Fadliansyah, Azinuddin Milzam Dwitiya • Violin 2: Ahmad Ramadhan, Bagus Retoridka, Arum Kusuma Dewi, Hesti Katarina, Andy Amrullah, Noorsyamsi C. P., Ilham Supriatna, Pritha Hayu Adzhari, Yohanes Suharyono • Viola: Yacobus Widodo S.H., Dwi Ari Ramlan, Yulianto Endarmawan, Amy Aurellia Purnajo, Sagaf Faozata Adzkiya, Bernadus Ricalo Gilang • Cello: Nandya Abror Nur Musabih, Alfian Aditya, Billy Aryo Nugroho, L. Sigit Santoso, Putri Juri Batubara, Heidi Imanda Cahyadi, Unung Supardi • Contrabass: Dwipa Hanggana Prabawa, Ihsan Febriansyah Latif, Joanito Lingga Lasarda P., Wido Widiatmoko, Doni Sundjoyo • Flute/ Piccolo: Metta Faurizka S., Cendy Sukma Triananda • Oboe: Nedy Benediktus, Juhad Ansyari • Clarinet: M. Nur Ikhsan, Dino Yulio Wijaya • Bassoon: Siswanto, Slamet Tri Wahana • Trumpet: Aditya Susila Sakti, Ahmad Morsidi • French Horn: Rahmad Biardi, Eddi Purwanto, Febriyanto, Iqbal Firdaus Salam • Trombone: Anggit Suryana, Agil Setiawan, Wening Prasongko • Percussion/Timpani: Amiruddin Sitompul, Muhammad Adriansyah, Anggraeni Kartika Putri, Alfin Satriani • Harp: Carlin Eureka Yasin, Lisa Gracia Supadi • Piano: Merry Kasiman • Vocal for Under UmbrellaRahel Pradika Purba, Ranya Badudu, Mohammad Attar Nasution, Iwan Paul, Meilita Kasiman, Irlanto Pratama